BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran
dan / atau kesehatan dalam kegiatan, program kesehatan harus mengutamakan
peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Kegiatan, proyek dan
program kesehatan diselenggarakan agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya
bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Kegiatan, proyek dan
program kesehatan diselenggarakan dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan
standar profesi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta
mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh kebutuhan dan kondisi spesifik daerah.
Prospek perawat profesional di masa depan sangat
ditentukan oleh banyak faktor, mulai faktor keadaan kestabilan
sosial-ekonomi-politik di Indonesia dan faktor internal pada diri perawat
sendiri.
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari
badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara
sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan
pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau
perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses
membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara
kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang
mempengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain. Definisi yang bahkan lebih
sederhana diajukan oleh Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan
kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah
adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan.
Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini
lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapat jaminan kesehatan
dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses,
Taspen, dan Jamsostek. Golongan masyarakat yang dianggap 'teranak tirikan'
dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil dan
pedagang. Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung
dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok
manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri.
Menjadi
seorang tenaga kesehatan (perawat) bukanlah hal yang mudah. Seorang perawat
harus siap fisik maupun mental, karena tugas seorang perawat sangatlah berat.
Di Indonesia ini jumlah perawat memang tidak sedikit, tetapi untuk di pelosok
daerah masih banyak masyarakat yang belum paham akan arti dari profesi tenaga
medis. perawat yang siap mengabdi di kawasan pedesaan, artinya ia juga harus
siap dengan konsekuensi yang akan terjadi. Tak mudah mengubah pola pikir
ataupun kebiasaan masyarakat. Apalagi, masalah proses pertolongan atau
penyembuhan. Kehadiran tenaga medis dengan spesialisasi melayani masyarakat
di beberapa daerah terpencil merupakan hal yang baru dan tidak mudah untuk
beradaptasi dengan budaya dan kebiasaan masyarakat.
Setiap
individu, keluarga dan masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk
memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sehingga dapat mencapai derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya. Kesempatan untuk memperoleh pelayanan
kesehatan yang berkualitas, terjangkau dan tepat waktu tidak boleh memandang
perbedaan ras, golongan, agama dan status sosial ekonomi seorang individu,
keluarga atau sekelompok masyarakat.
Pembangunan kesehatan yang cenderung urban-based harus terus diimbangi
dengan upaya-upaya pelayanan kesehatan yang bersifat rujukan, bersifat luar
gedung maupun yang bersifat satelit pelayanan. Dengan demikian,
pembangunan kesehatan dapat menjangkau kantong-kantong penduduk risiko tinggi
yang merupakan penyumbang terbesar kejadian sakit dan kematian.
Kelompok-kelompok penduduk inilah yang sesungguhnya lebih membutuhkan
pertolongan karena selain lebih rentan terhadap penyakit, kemampuan membayar
mereka jauh lebih sedikit.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa yang
dimasud dengan antropologi kesehatan?
2. Apa yang
dimaksud dengan anamnesa pada klien?
3. Bagaimana mengaplikasikan konsep antropologi dalam
praktek keperawatan dalam melakukan anamnesa pada klien ?
4. Bagaimana mengintegrasikan
konsep antropologi dalam praktek keperawatan melakukan anamnesa pada klien ?
C. Tujuan
Penulisan
1.
Mengetahui tentang
antropologi kesehatan dalam praktek keperawatan.
2.
Mengetahui apa
yang dimaksud anamnesa pada klien.
3.
Dapat
mengaplikasikan konsep antropologi dalam praktek keperawatan dengan anamnesa pada klien.
4.
Dapat mengintegrasikan konsep
antropologi dalam praktek keperawatan.
5.
Sebagai
bahan ajar dan pengetahuan tentang gambaran prospek antropologi dalam praktek
keperawatan melakukan anamnesi pada klien.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Social budaya erat kaitannya dengan pendekatan
ilmu antropologi yaitu Kata Antropologi berasal dari bahasa Yunani, anthropos
dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos berarti pikiran atau ilmu.
Secara sederhana, antropologi dapat dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari
manusia. Tentunya kita akan semakin bertanya-tanya, begitu banyak ilmu yang
mempelajari manusia.
Menurut William A. Haviland, seorang antropologi
Amerika, Antropologi adalah ilrnu pengetahuan yang mempelajari keanekaragaman
manusia dan kebudayaannya. Dengan mempelajari kedua hal tersebut, Antropologi
adalah studi yang berusaha menjelaskan tentang berbagai macam bentuk perbedaan
dan persamaan dalam aneka ragam kebudayaan manusia.
Antropologi Kesehatan adalah
disiplin yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosio-budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi
antara keduanya disepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi
kesehatan dan penyakit pada manusia (Foster/Anderson, 1986; 1-3).
Menurut Weaver : Antropologi Kesehatan adalah cabang dari antropologi terapan
yang menangani berbagai aspek dari kesehatan dan penyakit (Weaver, 1968;1)
Menurut Hasan dan Prasad : Antropologi Kesehatan adalah cabang dari ilmu mengenai
manusia yang mempelajari aspek-aspek biologi dan kebudayaan manusia (termasuk
sejarahnya) dari titik tolak pandangan untuk memahami kedokteran (medical),
sejarah kedokteran (medico-historical), hukum kedokteran (medico-legal), aspek
sosial kedokteran (medico-social) dan masalah-masalah kesehatan manusia (Hasan
dan Prasad, 1959; 21-22)
Menurut Hochstrasser : Antropologi Kesehatan adalah pemahaman biobudaya
manusia dan karya-karyanya, yang berhubungan dengan kesehatan dan pengobatan
(Hochstrasser dan Tapp, 1970; 245).
Menurut Lieban : Antropologi Kesehatan adalah studi tentang fenomena
medis (Lieban 1973, 1034)
Menurut Fabrega : Antropologi Kesehatan adalah studi yang menjelaskan:
1.
Berbagai faktor, mekanisme dan proses yang memainkan
peranan didalam atau
mempengaruhi cara-cara dimana individu-individu dan kelompok-kelompok
terkena oleh atau berespons terhadap sakit dan penyakit.
mempengaruhi cara-cara dimana individu-individu dan kelompok-kelompok
terkena oleh atau berespons terhadap sakit dan penyakit.
2. Mempelajari masalah-masalah sakit dan penyakit dengan
penekanan terhadap
pola-pola tingkah laku. (Fabrga, 1972;167).
pola-pola tingkah laku. (Fabrga, 1972;167).
Dari definisi-definisi yang
dibuat oleh ahli-ahli antropologi mengenai Antropologi Kesehatan seperti
tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Antropologi Kesehatan
mencakup:
1. Mendefinisi secara komprehensif dan interpretasi berbagai macam masalah
tentang hubungan timbal-balik biobudaya, antara tingkah laku manusia dimasa
lalu dan masa kini dengan derajat kesehatan dan penyakit, tanpa
mengutamakan perhatian pada penggunaan praktis dari pengetahuan tersebut;
tentang hubungan timbal-balik biobudaya, antara tingkah laku manusia dimasa
lalu dan masa kini dengan derajat kesehatan dan penyakit, tanpa
mengutamakan perhatian pada penggunaan praktis dari pengetahuan tersebut;
2. Partisipasi profesional
mereka dalam program-program yang bertujuan
memperbaiki derajat kesehatan melalui pemahaman yang lebih besar tentang
hubungan antara gejala bio-sosial-budaya dengan kesehatan, serta melalui
perubahan tingkah laku sehat kearah yang diyakini akan meningkatkan
kesehatan yang lebih baik.
memperbaiki derajat kesehatan melalui pemahaman yang lebih besar tentang
hubungan antara gejala bio-sosial-budaya dengan kesehatan, serta melalui
perubahan tingkah laku sehat kearah yang diyakini akan meningkatkan
kesehatan yang lebih baik.
Anamnesis adalah suatu tehnik
pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu percakapan antara seorang dokter dengan
pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui tentang
kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya.
Tujuan pertama anamnesis adalah
memperoleh data atau informasi tentang permasalahan yang sedang dialami atau
dirasakan oleh pasien. Apabila anamnesis dilakukan dengan cermat maka informasi
yang didapatkan akan sangat berharga bagi penegakan diagnosis, bahkan tidak
jarang hanya dari anamnesis saja seorang dokter sudah dapat menegakkan
diagnosis. Secara umum sekitar 60-70% kemungkinan diagnosis yang benar sudah
dapat ditegakkan hanya dengan anamnesis yang benar.
Tujuan berikutnya dari anamnesis adalah
untuk membangun hubungan yang baik antara seorang dokter dan pasiennya. Umumnya
seorang pasien yang baru pertama kalinya bertemu dengan dokternya akan merasa
canggung, tidak nyaman dan takut, sehingga cederung tertutup. Tugas seorang
dokterlah untuk mencairkan hubungan tersebut. Pemeriksaan anamnesis adalah
pintu pembuka atau jembatan untuk membangun hubungan dokter dan pasiennya
sehingga dapat mengembangkan keterbukaan dan kerjasama dari pasien untuk
tahap-tahap pemeriksaan selanjutnya.
Jenis Anamnesis ada 2, yakni
Autoanamnesis dan Alloanamnesis atau Heteroanamnesis. Pada umumnya anamnesis
dilakukan dengan tehnik autoanamnesis yaitu anamnesis yang dilakukan langsung
terhadap pasiennya. Pasien sendirilah yang menjawab semua pertanyaan dokter dan
menceritakan permasalahannya. Ini adalah cara anamnesis terbaik karena pasien
sendirilah yang paling tepat untuk menceritakan apa yang sesungguhnya dia
rasakan.
Meskipun demikian dalam prakteknya tidak selalu autoanamnesis dapat dilakukan. Pada pasien yang tidak sadar, sangat lemah atau sangat sakit untuk menjawab pertanyaan, atau pada pasien anak-anak, maka perlu orang lain untuk menceritakan permasalahnnya. Anamnesis yang didapat dari informasi orag lain ini disebut Alloanamnesis atau Heteroanamnesis. Tidak jarang dalam praktek sehari-hari anamnesis dilakukan bersama-sama auto dan alloanamnesis.
Meskipun demikian dalam prakteknya tidak selalu autoanamnesis dapat dilakukan. Pada pasien yang tidak sadar, sangat lemah atau sangat sakit untuk menjawab pertanyaan, atau pada pasien anak-anak, maka perlu orang lain untuk menceritakan permasalahnnya. Anamnesis yang didapat dari informasi orag lain ini disebut Alloanamnesis atau Heteroanamnesis. Tidak jarang dalam praktek sehari-hari anamnesis dilakukan bersama-sama auto dan alloanamnesis.
Persiapan untuk anamnesis yang baik hanya
dapat dilakukan apabila perawat yang melakukan anamnesis tersebut menguasai
dengan baik teori atau pengetahuan keperawatan. Tidak mungkin seorang dokter
akan dapat mengarahkan pertanyaan-pertanyaannya dan akhirnya mengambil
kesimpulan dari anamnesis yang dilakukan bila dia tidak menguasai dengan baik
ilmu keperawatan
B.
Mengaplikasikan anamnesa pada klien
Dalam melakukan
anamnesis ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang perawat, antara
lain :
1. Tempat dan suasana
Tempat dan suasana
dimana anamnesis ini dilakukan harus diusahakan cukup nyaman bagi pasien.
Anamnesis akan berjalan lancar kalau tempat dan suasana mendukung. Suasana diciptakan
agar pasien merasa santai, tidak tegang dan tidak merasa diinterogasi.
2. Penampilan perawat
Penampilan seorang
perawat juga perlu diperhatikan karena ini akan meningkatkan kepercayaan
pasiennya. Seorang perawat yang tampak rapi dan bersih akan lebih baik dari
pada yang tampak lusuh dan kotor. Demikian juga seorang perawat yang tampak
ramah, santai akan lebih mudah melakukan anamnesis daripada yang tampak galak,
ketus dan tegang.
3. Periksa kartu dan data pasien
Sebelum
anamnesis dilakukan sebaiknya periksa terlebih dahulu kartu atau data pasien
dan cocokkan dengan keberadaan pasiennya. Tidak tertutup kemungkinan
kadang-kadang terjadi kesalahan data pasien atau mungkin juga kesalahan kartu
data, misalkan pasien A tetapi kartu datanya milik pasien B, atau mungkin saja
ada 2 pasien dengan nama yang sama persis. Untuk pasien lama lihat juga
data-data pemeriksaan, diagnosis dan terapi sebelumnya. Informasi data
kesehatan sebelumnya seringkali berguna untuk anamnesis dan pemeriksaan saat
ini.
4. Dorongan kepada pasien untuk
menceritakan keluhannya
Pada saat anamnesis dilakukan berikan
perhatian dan dorongan agar pasien dapat dengan leluasa menceritakan apa saja
keluhannya. Biarkan pasien bercerita dengan bahasanya sendiri. Ikuti cerita
pasien, jangan terus menerus memotong, tetapi arahkan bila melantur. Pada saat
pasien bercerita, apabila diperlukan ajukan pertanyaan-pertanyaan singkat untuk
minta klarifikasi atau informasi lebih detail dari keluhannya. Jaga agar jangan
sampai terbawa cerita pasien sehingga melantur kemana mana.
5. Gunakan bahasa/istilah yang dapat
dimengerti
Selama tanya jawab berlangsung gunakan
bahasa atau istilah umum yang dapat dimengerti pasien. Apabila ada istilah yang
tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia atau sulit dimengerti, berika
penjelasan atau deskripsi dari istilah tersebut.
6. Buat catatan
Adalah kebiasaan yang baik untuk membuat
catatan-catatan kecil saat seorang dokter melakukan anamnesis, terutama bila
pasien yang mempunyai riwayat penyakit yang panjang.
7. Perhatikan pasiennya
Selama
anamnesis berlangsung perhatikan posisi, sikap, cara bicara dan gerak gerik
pasien. Apakah pasien dalam keadaaan sadar sepenuhnya atau apatis, apakah dalam
posisi bebas atau posisi letak paksa, apakah tampak santai atau menahan sakit,
apakah tampak sesak, apakah dapat bercerita dengan kalimat-kalimat panjang atau
terputus-putus, apakah tampak segar atau lesu, pucat dan lain-lain.
8. Gunakan metode yang sistematis
Anamnesis
yag baik haruslah dilakukan dengan sistematis menurut kerangka anamnesis yang
baku. Dengan cara demikian maka diharapkan tidak ada informasi yang terlewat.
C.
Tantangan dalam Anamnesis
1.
Pasien
yang tertutup
Anamnesis
akan sulit dilakukan bila pasien membisu dan tidak mau menjawab
pertanyaan-pertanyaan dokternya. Keadaan ini dapat disebabkan pasien merasa
cemas atau tertekan, tidak leluasa menceritakan keluhannya atau dapat pula
perilakunya yang demikian karena gangguan depresi atau psikiatrik. Tergantung
masalah dan situasinya kadang perlu orang lain (keluarga atau orang-orang
terdekat) untuk mendampingi dan menjawab pertanyaan dokter (heteroanamnesis),
tetapi kadang pula lebih baik tidak ada seorangpun kecuali pasien dan
dokternya. Bila pasien dirawat di rumah sakit maka anamnesis dapat dilanjutkan
pada hari-hari berikutnya setelah pasien lebih tenang dan lebih terbuka.
2. Pasien yag terlalu banyak keluhan
Sebaliknya
tidak jarang seorang pasien datang ke dokter dengan begitu banyak keluhan dari
ujung kepala sampai ujung kaki. Tugas seorang dokter untuk memilah-milah
keluhan mana yang merupakan keluhan utamanya dan mana yang hanya keluh kesah.
Diperlukan kepekaan dan latihan untuk membedakan mana yang merupakan keluhan
yang sesungguhnya dan mana yang merupakan keluhan mengada-ada. Apabila
benar-benar pasien mempuyai banyak keluhan harus dipertimbangkan apakah semua
keluhan itu merujuk pada satu penyakit atau kebetulan pada saat tersebut ada
beberapa penyakit yang sekaligus dideritanya.
3. Hambatan bahasa dan atau intelektual
Seorang
dokter mungkin saja ditempatkan atau bertugas disuatu daerah yang mayoritas
penduduknya menggunakan bahasa daerah yang belum kita kuasai. Keadaan semacam
ini dapat menyulitkan dalam pelaksanaan anamnesis. Seorang dokter harus segera
belajar bahasa daerah tersebut agar dapat memperlancar anamnesis, dan bila
perlu dapat meminta bantuan perawat atau petugas kesehatan lainnya untuk
mendampingi dan membantu menerjemahkan selama anamnesis. Kesulitan yang sama
dapat terjadi ketika menghadapi pasien yang karena intelektualnya yang rendah
tidak dapat memahami pertanyaan atau penjelasan dokternya. Seorang dokter
dituntut untuk mampu melakukan anamnesis atau memberikan penjelasan dengan
bahasa yang sangat sederhana agar dapat dimengerti pasiennya.
4.
Pasien
dengan gangguan atau penyakit jiwa
Diperlukan
satu tehnik anamnesis khusus bila seorang dokter berhadapan dengan penderita
gangguan atau penyakit jiwa. Mungkin saja anamnesis akan sangat kacau, setiap
pertanyaan tidak dijawab sebagaimana seharusnya. Justru di dalam
jawaban-jawaban yang kacau tersebut terdapat petunjuk-petunjuk untuk menegakkan
diagnosis. Seorang dokter tidak boleh bingung dan kehilangan kendali dalam
melakukan anamnesis pada kasus-kasus ini.
5.
Pasien
yang cenderung marah dan menyalahkan
Tidak
jarang dijumpai pasien-pasien yang datang ke dokter sudah dalam keadaan marah
dan cenderung menyalahkan. Selama anamnesis mereka menyalahkan semua dokter
yang pernah memeriksanya, menyalahkan keluarga atau orang lain atas masalah
atau keluhan yang dideritanya. Umumnya ini terjadi pada pasien-pasien yang
tidak mau menerima kenyataan diagnosis atau penyakit yang dideritanya. Sebagai
seorang dokter kita tidak boleh ikut terpancing dengan menyalahkan sejawat
dokter lain karena hal tersebut sangat tidak etis. Seorang dokter juga tidak
boleh terpancing dengan gaya dan pembawaan pasiennya sehingga terintimidasi dan
menjadi takut untuk melakukan anamnesis dan membuat diagnosis yang benar.
D.
Sistematika Anamnesis
Sebuah anamnesis yang baik haruslah
mengikuti suatu metode atau sistematika yang baku sehingga mudah diikuti.
Tujuannya adalah agar selama melakukan anamnesis seorang dokter tidak
kehilangan arah, agar tidak ada pertanyaan atau informasi yang terlewat.
Sistematika ini juga berguna dalam pembuatan status pasien agar memudahkan
siapa saja yang membacanya. Sistematika tersebut terdiri dari :
1. Data umum pasien
2. Keluhan utama
3. Riwayat penyakit sekarang
4. Riwayat penyakit dahulu
5. Riwayat penyakit keluarga
6. Riwayat kebiasaan/sosial
7. Anamnesis sistem
1.
Data umum pasien
a. Nama pasien. Sebaiknya nama lengkap bukan
nama panggilan atau alias.
b. Jenis kelamin. Sebagai kelengkapan harus
juga ditulis datanya
c. Umur
Terutama
penting pada pasien anak-anak karena kadang-kadang digunakan untuk menentukan dosis obat. Juga dapat
digunakan untuk memperkirakan kemungkinan, penyakit yang diderita, beberapa penyakit
khas untuk umur tertentu.
d. Alamat
Apabila pasien sering berpindah-pindah tempat maka tanyakan bukan hanya alamat sekarang saja tetapi juga alamat pada waktu pasien merasa sakit untuk pertama kalinya. Data ini kadang diperlukan untuk mengetahui terjadinya wabah, penyakit endemis atau untuk data epidemiologi penyakit.
Apabila pasien sering berpindah-pindah tempat maka tanyakan bukan hanya alamat sekarang saja tetapi juga alamat pada waktu pasien merasa sakit untuk pertama kalinya. Data ini kadang diperlukan untuk mengetahui terjadinya wabah, penyakit endemis atau untuk data epidemiologi penyakit.
e. Pekerjaan
Bila seorang
dokter mencurigai terdapatnya hubungan antara penyakit pasien dengan pekerjaannya,
maka tanyakan bukan hanya pekerjaan sekarang tetapi juga pekerjaan-pekerjaan
sebelumnya.
f. Perkawinan
Kadang
berguna untuk mengetahui latar belakang psikologi pasien
g. Agama
g. Agama
Keterangan
ini berguna untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh
(pantangan) seorang pasien menurut agamanya.
(pantangan) seorang pasien menurut agamanya.
h.
Suku bangsa
Berhubungan
dengan kebiasaan tertentu atau penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan ras/suku bangsa tertetu.
berhubungan dengan ras/suku bangsa tertetu.
2. Keluhan Utama
Keluhan
utama adalah keluhan yang paling dirasakan atau yang paling berat sehingga
mendorong pasien datang berobat atau mencari pertolongan medis. Tidak jarang
pasien datang dengan beberapa keluhan sekaligus, sehingga seorang dokter harus
jeli dan cermat untuk menentukan keluhan mana yang merupakan keluhan utamanya.
Pada tahap ini sebaiknya seorang dokter sudah mulai memikirkan beberapa
kemungkinan diagnosis banding yang berhubungan dengan keluhan utama tersebut.
Pemikiran ini akan membantu dalam mengarahkan pertanyaan-pertanyaan dalam
anamnesis selanjutnya. Pertanyaan diarahkan untuk makin menguatkan diagnosis
yang dipikirkan atau menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan diagnosis banding.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Dari
seluruh tahapan anamnesis bagian inilah yang paling penting untuk menegakkan
diagnosis. Tahapan ini merupaka inti dari anamnesis. Terdapat 4 unsur utama
dalam anamnesis riwayat penyakit sekarang, yakni :
(1)
kronologi atau perjalanan penyakit,
(2)
gambaran atau deskripsi keluhan utama,
(3)
keluhan atau gejala penyerta, dan
(4)
usaha berobat.
Selama
melakukan anamnesis keempat unsur ini harus ditanyakan secara detail dan
lengkap. Kronologis atau perjalanan penyakit dimulai saat pertama kali pasien
merasakan munculnya keluhan atau gejala penyakitnya. Setelah itu ditanyakan
bagaimana perkembangan penyakitnya apakah cenderung menetap, berfluktuasi atau
bertambah lama bertambah berat sampai akhirnya datang mencari pertologan medis.
Apakah
munculnya keluhan atau gejala tersebut bersifat akut atau kronik, apakah dalam
perjalanan penyakitnya ada faktor-faktor yang mencetuskan atau memperberat
penyakit atau faktor-faktor yang memperingan. Bila keluhan atau gejala tersebut
bersifat serangan maka tanyakan seberapa sering atau frekuensi munculnya serangan
dan durasi atau lamanya serangan tersebut. Keluhan atau gejala penyerta adalah
semua keluhan-keluhan atau gejala yang menyertai keluhan atau gejala utama.
Dalam
bagian ini juga ditanyakan usaha berobat yang sudah dilakukan untuk penyakitnya
yang sekarang. Pemeriksaan atau tindakan apa saja yang sudah dilakukan dan
obat-obat apa saja yag sudah diminum.
4. Riwayat Penyakit dahulu
Seorang
dokter harus mampu mendapatkan informasi tentang riwayat penyakit dahulu secara
lengkap, karena seringkali keluhan atau penyakit yang sedang diderita pasien
saat ini merupakan kelanjutan atau akibat dari penyakit-penyakit sebelumnya.
5. Riwayat penyakit Keluarga
Untuk
mendapatkan riwayat penyakit keluarga ini seorang dokter terkadang tidak cukup
hanya menanyakan riwayat penyakit orang tuanya saja, tetapi juga riwayat
kakek/nenek, paman/bibi, saudara sepupu dan lain-lain. Untuk beberapa penyakit
yang langka bahkan dianjurkan untuk membuat susunan pohon keluarga, sehingga
dapat terdeteksi siapa saja yang mempunyai potensi untuk menderita penyakit
yang sama.
6. Riwayat Kebiasaan/Sosial
Beberapa
kebiasaan berakibat buruk bagi kesehatan dan bahkan dapat menjadi penyebab penyakit
yang kini diderita pasien tersebut. Biasakan untuk selalu menanyakan apakah
pasien mempunyai kesimpulannya, maka cobalah dengan membuat daftar masalah atau
keluhan pasien. Daftar tersebut kemudian dapat digunakan untuk memandu
pemeriksaan fisik atau pemeriksaan penunjang yang akan dilaksanakan, sehingga
pada akhirnya dapat dibuat suatu diagosis kerja yang lebih terarah kebiasaan
merokok atau minum alkohol. Tanyakan sudah berapa lama dan berapa banyak pasien
melakukan kebiasaan tersebut. Pada masa kini bila berhadapan dengan pasien usia
remaja atau dewasa muda harus juga ditanyakan ada atau tidaknya riwayat
penggunaan obat-obatan terlarang seperti narkoba, ekstasi dan lai-lain.
7. Anamnesis Sistem
Anamnesis
sistem adalah semacam review dimana seorang dokter secara singkat dan
sistematis menanyakan keluhan-keluhan lain yang mungkin ada dan belum
disebutkan oleh pasien. Keluhan ini mungkin saja tidak berhubugan dengan
penyakit yang sekarang diderita tapi mungkin juga merupakan informasi berharga
yang terlewatkan.
Kesimpulan
anamnesis pada akhir anamnesis seorang dokter harus dapat membuat kesimpulan
dari anamnesis yang dilakukan. Kesimpulan tersebut berupa perkiraan diagnosis
yang dapat berupa diagnosis tunggal atau diagnosis banding dari beberapa
penyakit. Kesimpulan yang dibuat haruslah logis dan sesuai dengan keluhan utama
pasien. Bila menjumpai kasus yang sulit dengan banyak keluhan yang tidak dapat
dibuat
BAB III
KESIMPULAN
Prospek social budaya terhadap Keperawatan adalah
suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang difokuskan kepada individu
dan kelompok untuk mempertahankan, meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan
latar belakang budaya dan menerapakan pelayanan keperawatan sesuai dengan latar
belakang budaya tanpa merugikan kesehatan atau melanggar prosedur asuhan
keperawatan.
Pengkajian asuhan keperawatan dalam konteks social
budaya sangat diperlukan untuk menjembatani perbedaan pengetahuan yang dimiliki
oleh perawat dengan klien. Diagnosa keperawatan transkultural yang ditegakkan
dapat mengidentifikasi tindakan yang dibutuhkan untuk mempertahankan budaya
yang sesuai dengan kesehatan, membentuk budaya baru yang sesuai dengan
kesehatan atau bahkan mengganti budaya yang tidak sesuai dengan kesehatan
dengan budaya baru.
Perencanaan dan pelaksanaan proses keperawatan
transkultural tidak dapat begitu saja dipaksakan kepada klien sebelum perawat
memahami latar belakang budaya klien sehingga tindakan yang dilakukan dapat
sesuai dengan budaya klien. Evaluasi asuhan keperawatan transkultural melekat
erat dengan perencanaan dan pelaksanaan proses asuhan keperawatan
transkultural.










